Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2009

FiSiKa????

MeNuJu OlImPiAdE FiSiKa InTerNaTiOnAl!!!!!

Pelajaran fisika telah menjadi ‘momok’ di sebagian besar kalangan siswa SMA di Indonesia. Rumus-rumus sulit yang hanya bisa dipahami orang-orang jenius mungkin menjadi gambaran yang terlintas pertama kali di benak siswa ketika membayangkan subjek ini. Hal itu menjadi penyebab minimnya prestasi siswa SMA Indonesia pada mata pelajaran fisika. Padahal pada kenyataannya, pelajaran ini bisa dipahami cukup dengan menggunakan penalaran mudah yang realitanya dapat dilihat dari kejadian sehari-hari.

Hal ini memacu saya untuk menjelaskan pada siswa bahwa fenomena fisika ada di sekeliling mereka dan bukan hanya berisi teori-teori kompleks dengan perumusan panjang. Diharapkan dengan pendekatan tersebut, siswa dapat menyadari bahwa fisika itu menyenangkan sehingga mereka terangsang untuk bisa mengaplikasikannya pada lingkungan di sekelilingnya.

Melalui metode pengajaran yang tepat, siswa dapat membuka belenggu potensi dan siap meraih prestasi dengan ikut serta dalam kompetisi pelajaran di luar sekolah. Dukungan dari semua pihak terutama kepala sekolah yang dipadu dalam suatu jaringan kerja sama tidak hanya akan membantu siswa, tetapi juga pihak-pihak itu sendiri untuk meraih yang dicita-citakan. Prestasi yang diraih seperti pada kompetisi fisika paling bergengsi, yakni olimpiade tingkat Asia (APhO) dan olimpiade tingkat dunia (IPhO), otomatis akan mengangkat nama baik sekolah, bangsa, dan negara, khususnya dalam bidang pendidikan fisika.
Modal Dasar Peningkatan Prestasi Siswa
Seleksi masuk yang ketat mengakibatkan input sekolah ini merupakan siswa-siswa SLTP yang berkualitas. Guru-guru yang berdedikasi tinggi turut mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar dengan tetap melakukan koordinasi antar sesama demi kemajuan siswanya. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang dapat menggali potensi dalam diri siswa. Selain itu, kepala sekolah juga sangat mendukung kemajuan guru-guru untuk meningkatkan potensi diri. Berbagai cara dilakukan oleh kepala sekolah untuk kemajuan guru-guru, misalnya dengan diikutsertakan dalam berbagai pelatihan dan seminar.

Dalam situasi yang sedemikian kondusif tentu saja sangat membantu untuk menerapkan strategi pengajaran yang telah disusun. Meski kualitas siswa yang masuk sudah memadai, pasti selalu saja ada ruang untuk kemajuan. Dengan memberikan pemahaman konsep yang mudah dipahami ditambah contoh-contoh soal yang aplikatif diharapkan siswa mampu menyelesaikan bermacam variasi soal. Tidak kalah penting adalah pembentukan kelompok-kelompok belajar di kelas untuk menumbuhkan kebiasaan berdiskusi dalam penyelesaian masalah-masalah fisika. Untuk menambah motivasi anak didik, saya juga sering menceritakan kisah-kisah mengenai kehebatan penemuan-penemuan fisika berikut dampaknya dan juga tentang prestasi kakak-kakak kelas mereka yang telah berhasil dalam kompetisi fisika. Target yang ingin dicapai setelah pembinaan, yang Alhamdulillah selama ini memperlihatkan keberhasilan yang cukup signifikan, adalah siswa yang menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jalan Menuju Olimpiade Fisika
Tidak dapat disangkal bahwa kebahagiaan tertinggi bagi seorang guru adalah melihat anak didiknya meraih kesuksesan. Salah satu contoh kecil yang dapat dijadikan tolok ukur langsung adalah keberhasilan siswa dalam memenangkan kompetisi-kompetisi di luar sekolah. Di sana siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat sekaligus mendapatkan gambaran objektif tentang kemampuan dirinya dengan siswa dari sekolah lain sebagai pembanding. Tentu saja peran aktif seorang guru sebagai pembina dan pengarah mutlak diperlukan untuk membimbing anak ke arah tersebut. Sebab hasil yang maksimal diraih bukan dengan cara menggantungkan semua beban ke pundak seorang siswa, tetapi dengan suatu teamwork dimana setiap komponen turut membantu semaksimalnya sesuai dengan peran masing-masing.

Langkah pertama dimulai dengan mencari siswa berpotensi di berbagai kelas di sekolahnya. Caranya adalah dengan melihat rapor evaluasi siswa atau meminta pendapat guru lain, termasuk kawan siswa, tentang siapa siswa yang mereka anggap berprestasi.

Langkah berikutnya adalah dengan mengikutsertakan siswa pada kompetisi di luar sekolah. Tidak lupa untuk memperkenalkan situasi lomba dan juga untuk menggembleng moral, saya sertakan siswa kelas 1 SMA untuk mendampingin kakak-kakak kelasnya dalam berlomba. Diharapkan mereka dapat menjadi teladan bagi adik kelas mereka sehingga dari awal sudah timbul keinginan untuk serius mengimprovisasi diri. Kompetisi-kompetisi semacam ini saya anggap sangat berguna untuk perkembangan mental dan tekad siswa, sekalipun harus pulang tanpa membawa piala. Dengan modal pengalaman serta mental yang kuat, sekitar beberapa minggu sebelum seleksi ujian masuk TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) nasional, anak-anak yang telah dipersiapkan tersebut mulai dibimbing secara intensif.

Pada saat penentuan tiba, semuanya berangkat dengan wajah ceria. Tidak ada rasa cemas karena semua sudah berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Saya ingatkan mereka supaya memulai mengerjakan soal dengan menenangkan hati dan mengucap doa semoga diberikan kemudahan dalam mengerjakan soal. Di tempat itu biasanya kami saling bertukar cerita tentang soal yang tadi diujikan. Tidak peduli hasil yang akan keluar nantinya, selalu saya tekankan kepada mereka untuk terus belajar, belajar, dan belajar tanpa ada rasa putus asa.

Apabila anak didik saya yang lolos seleksi TOFI dan masuk karantina untuk penggemblengan lebih lanjut, saya tetap memberikan mereka dukungan dari jauh. Di tempat karantina mereka diajar di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya berikut asisten-asistennya.

Tanpa terasa beberapa bulan kemudian momen puncak tersebut dating. Pihak sekolah memberikan dukungan dengan memberikan uang saku kepada murid, termasuk izin bagi guru pembimbingnya. Berbagai dukungan juga datang dari berbagai pihak seperti departemen pendidikan, beberapa pejabat, kepala sekolah, guru-guru, teman-teman siswa sampai orang tua murid.

Kesimpulan
Guru bukanlah seorang yang hanya bisa mengajar materi di kelas, tetapi juga sebagai pendidik yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan menggali potensi yang ada pada siswa sehingga siswa tahu akan bakat dan minatnya hingga bisa mengembangkan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Dalam rangka menambah wawasan di dunia pendidikan yang dinamis, seorang guru juga dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan pengetahuan melalui berbagai media dan wadah pelatihan. Sebagai bagian dari suatu jaringan yang saling menunjang, seorang guru berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi perannya sebagai guru yang bisa bekerja sama untuk membangun sekolah. Melalui peningkatan prestasi siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa yang lain hingga mampu berkompetisi di dunia internasional, khususnya di bidang fisika dalam membangun teknologi Indonesia. Diharapkan pemerintah dapat memfasilitasi siswa-siswa yang berpotensi dengan memberi beasiswa penuh sesuai dengan bakat dan minat siswa sehingga tidak diambil oleh lembaga pendidikan di negara asing.
Baca Selengkapnya...

Read more...

Selasa, 31 Maret 2009

MenGeNaL CaRa BeLaJaR iNdiViDu

Mengenal Cara Belajar Individu

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut.

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi “pintar”. Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.

Karakteristik Cara Belajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi “pintar” sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual

· rapi dan teratur

· berbicara dengan cepat

· mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik

· teliti dan rinci

· mementingkan penampilan

· lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar

· mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual

· memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik

· biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar

· sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)

· merupakan pembaca yang cepat dan tekun

· lebih suka membaca daripada dibacakan

· dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.

· jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara

· lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

· sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak’

· lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah

· lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik

· seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial

· sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja

· mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik

· lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca

· jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras

· dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara

· mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita

· berbicara dalam irama yang terpola dengan baik

· berbicara dengan sangat fasih

· lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya

· belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat

· senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar

· mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi

· lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya

· lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

· berbicara dengan perlahan

· menanggapi perhatian fisik

· menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka

· berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain

· banyak gerak fisik

· memiliki perkembangan otot yang baik

· belajar melalui praktek langsung atau manipulasi

· menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung

· menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca

· banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)

· tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama

· sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut

· menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

· pada umumnya tulisannya jelek

· menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)

· ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai.

sumber: www.e-psikologi.com


Baca Selengkapnya...

Read more...

Text

  ©Template by Dicas Blogger.