Tampilkan postingan dengan label MoViEs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MoViEs. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2009

GARUDA DI DADAKU', Ajarkan Mengejar Mimpi


GARUDA DI DADAKU', Ajarkan Mengejar Mimpi
Rabu, 17 Juni 2009 13:14
KapanLagi.com - Pemain: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranegara, Maudy Koesnadi, Ari Sihasale, Ramzi.

Jika Anda gemar mengajak keluarga nonton film di bioskop, GARUDA DI DADAKU layak Anda jadikan salah daftar film yang harus Anda tonton sekeluarga saat liburan sekolah. Film ini padat dan alurnya teratur karena hampir semua adegan memiliki kesinambungan tanpa ada loncatan sedikit pun. Untuk film yang didedikasikan bagi untuk keluarga, mulai anak-anak, remaja, dan orang tua alur yang datar tentu dapat dimaklumi.

Kisah Bayu, pemain utama yang diperankan oleh Emir Mahira, dalam mengejar mimpinya terpilih sebagai pemain nasional U13 mendapat tantangan keras oleh kakeknya Usman (Ikranegara). Alasannya, trauma atas meninggalnya ayah Bayu yang juga pemain bola.

Kakek Usman menggunakan segala akal agar Bayu tidak memiliki waktu untuk bermain bola. Segala macam les mulai dari musik, lukis, hingga ke pelajaran sekolah didaftarkan untuk Bayu. Namun, setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.

Heri, sahabat Bayu yang juga penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan 'pelatih' cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.
Rabu, 17 Juni 2009 13:14
KapanLagi.com - Pemain: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranegara, Maudy Koesnadi, Ari Sihasale, Ramzi.

Jika Anda gemar mengajak keluarga nonton film di bioskop, GARUDA DI DADAKU layak Anda jadikan salah daftar film yang harus Anda tonton sekeluarga saat liburan sekolah. Film ini padat dan alurnya teratur karena hampir semua adegan memiliki kesinambungan tanpa ada loncatan sedikit pun. Untuk film yang didedikasikan bagi untuk keluarga, mulai anak-anak, remaja, dan orang tua alur yang datar tentu dapat dimaklumi.

Kisah Bayu, pemain utama yang diperankan oleh Emir Mahira, dalam mengejar mimpinya terpilih sebagai pemain nasional U13 mendapat tantangan keras oleh kakeknya Usman (Ikranegara). Alasannya, trauma atas meninggalnya ayah Bayu yang juga pemain bola.

Kakek Usman menggunakan segala akal agar Bayu tidak memiliki waktu untuk bermain bola. Segala macam les mulai dari musik, lukis, hingga ke pelajaran sekolah didaftarkan untuk Bayu. Namun, setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.

Heri, sahabat Bayu yang juga penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan 'pelatih' cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.


Baca Selengkapnya...

Read more...

Jumat, 15 Mei 2009

JanDa KeMbAng


Film Janda Kembang Hasil Jiplakan ???
Belum lagi diputar untuk umum, film berjudul Janda Kembang yang diperankan Luna Maya dan Ringgo Agus Rahman sudah mendapatkan tudingan miring. Film yang baru saja dirilis oleh PT Kharisma Starvision (Starvision) itu seperti hasil jiplakan dari film asal Italia berjudul Malena.
Dalam film Malena berkisah tentang perempuan molek yang bernama Malena (diperankan oleh Monica Belucci). Malena ditinggal perang oleh suaminya yang membela negaranya nan fasis dalam Perang Dunia II. Namun, karena sang suami tidak kunjung pulang akhirnya suami Malena diangap gugur di medan perang.

Karena urusan nafkah yang tak lagi dipenuhi oleh suami, akhirnya Malena jatuh ke pelukan banyak lelaki hidung belang yang dari semula ingin mencicipi tubuh cantik nan molek milik Malena. Tragisnya, suatu saat kecantikan Malena yang menjadi incaran banyak lelaki itu hanya ditukar dengan semangkok bubur untuk sarapan pagi.
Suatu saat, dia diadukan oleh seorang istri pejabat yang terlibat affair dengannya. Malena pun dihadapkan ke persidangan. “Satu-satunya kesalahan perempuan ini adalah kecantikannya.” kata pengacara yang menjadi pembela si jelita itu.

Di film Janda Kembang, Selasih atau Asih yang diperankan Luna Maya tampil tanpa sepatah katapun dan dikejar-kejar banyak lelaki. Kalau Malena dikejar-kejar menggunakan sepeda ontel, Asih dikejar-kejar para lelaki di kampung Pulo Bantal. Termasuk dua ABG, yaitu Fadli (Esa Sigit) dan Radja (Rifat Sungkar) yang menggunakan skuter.

Bedanya, Asih pandai bernyanyi sehingga direkrut oleh Pak Dodi (Ringgu Agus Rahman) dalam grup musik dangdut Dodirama. Hingga pada saat pentas, bu Yuli (Sarah Sechan) istri Pak Dodi, tak bisa menyanyi lantaran cegukan.

Co Produser Janda Kembang, Hanung Bramantio saat dikonfirmasi wartawan saat preskon membantah keras bahwa Janda Kembang Hasil plagiat. "Kalau terinspirasi, iya. Tapi kalau plagiat, menjiplak banget gak. Beda sekali," kata Hanung.

Hanung juga menambahkan bahwa seting Janda Kembang berformat Indonesia kekinian dengan beragam pandangan faktual di masyarakat terhadap janda. "Sebelum membuat film ini, kami juga sempat diskusi dengan teman-teman, kesimpulannya kami ingin memberi hiburan segar dengan situasi keindonesiaan. Sekali lagi, tegasnya bukan plagiat," tegas Hanung. (kepritoday.com)
Baca Selengkapnya...

Read more...

Angels & Demons


Angels & Demons (film)
From Wikipedia, the free encyclopedia
Angels & Demons is a 2009 film adaptation of Dan Brown's novel of the same name, released on May 14, 2009. It is the sequel to The Da Vinci Code (2006), another Brown film adaptation, although the novel Angels & Demons was published and takes place before the novel The Da Vinci Code. Filming took place in Rome and the Sony Pictures Studios in Los Angeles. Tom Hanks reprises the lead role of Robert Langdon, while director Ron Howard, producer Brian Grazer and screenwriter Akiva Goldsman also returned.
Production

Development
In 2003, Sony acquired the film rights to Angels & Demons (2009) along with The Da Vinci Code (2003) in a deal with author Dan Brown. In May 2006, following the film release of the 2006 film adaptation of The Da Vinci Code, Sony hired screenwriter Akiva Goldsman, who wrote the film adaptation of The Da Vinci Code, to adapt Angels & Demons.[3] Filming was originally to begin in February 2008 for a December 2008 release,[4] but because of the 2007–2008 Writers Guild of America strike, production was pushed back for a May 15, 2009 release.[5] David Koepp rewrote the script before shooting began.[6]

Director Ron Howard chose to treat Angels & Demons as a sequel to the previous film, rather than a prequel, since many had read the novel after The Da Vinci Code. He liked the idea Langdon had been through one adventure and became a more confident character.[7] Howard was also more comfortable taking liberties in adapting the story because the novel is less popular than The Da Vinci Code.[8] Producer Brian Grazer said they were too "reverential" when adapting The Da Vinci Code, which resulted in it being "a little long and stagey". This time, "Langdon doesn't stop and give a speech. When he speaks, he's in motion."[9] Howard concurred "it's very much about modernity clashing with antiquity and technology vs. faith, so these themes, these ideas are much more active whereas the other one lived so much in the past. The tones are just innately so different between the two stories."[8]

The filmmakers cut down the amount of time Langdon spends in the novel at CERN, and also received advice during a visit to the facility to make the plot more realistic: it would take two billion years to produce the antimatter in the novel, so CERN suggested other physics involving antimatter for the new plot. McGregor's character was changed from Italian to Irish, to accommodate the Scottish actor.[7]

[edit] Filming

Shooting began on June 4, 2008 in Rome under the fake working title "Obelisk".[10] The filmmakers scheduled three weeks of exterior location filming because of a predicted 2008 Screen Actors Guild strike on June 30. The rest of the film would be shot at Sony Pictures Studios in Los Angeles, California, to allow for this halt.[11] Roman Catholic Church officials found The Da Vinci Code offensive and forbade filming in their churches, so these scenes were shot at Sony.[10] The Caserta Palace doubled for the inside of the Vatican,[10] and the Biblioteca Angelica was used for the Vatican Library.[12] Filming took place at the University of California, Los Angeles in July.[13] Sony and Imagine Entertainment organized an eco-friendly shoot, selecting when to shoot locations based on how much time and fuel it would save, using cargo containers to support set walls or greenscreens, as well as storing props for future productions or donating them to charity.[14]
Howard hated that the Writers Guild strike forced him to shoot the film during summer, where crowds gathered to watch the filming of scenes, and some would even sing the Happy Days theme at him. Regardless, he felt the quick shoot allowed him to refine the naturalism he had employed on his previous film Frost/Nixon, often using handheld cameras to lend an additional energy to the scenes. Hanks interrupted filming of one scene in order to help a bride and groom get through the crowds to their wedding on time; Zurer recalled the bride told Hanks "Your hair is much better right now." McGregor said the Pope's funeral was the dullest sequence to film, as they were just walking across staircases. Then, "Someone started singing 'Bohemian Rhapsody' [and] it became the funeral theme tune."[7]

When recreating the interior of St. Peter's Basilica, production designer Allan Cameron and visual effects supervisor Angus Bickerton recognized the 80 feet (24 m) tall soundstages were only half the size of the real church. They rebuilt the area around and the crypts beneath St. Peter's baldachin, including the bottoms of the columns and Saint Peter's statue, and surrounded it with a 360 degree greenscreen so the rest could be built digitally. Cameron had twenty crew members photograph as much as they could inside the Sistine Chapel, and had artists sketch, photograph and enlarge recreations of the paintings and mosiacs from the photographs. Cameron chose to present the Sistine Chapel as it was before it was cleaned up, because he preferred the contrast the smoky, muted colors would present with the cardinals. Although the chapel was built to full size, the Sala Regia was made smaller to fit inside the stage.[15]

The Saint Peter's Square and the Piazza Navona sets were built on the same backlot; after completion of scenes at the former, six weeks were spent converting the set, knocking down the Basilica side and excavating 3 1/2 feet (1 m) of tarmac to build the fountain. As there had been filming at the real Piazza Navona, the transistion between it and the replica had to be seamless. To present the Santa Maria del Popolo undergoing rennovation, a police station in Rome opposite the real church was used for the exterior; the scaffolding would hide that it was not the church. Cameron built the interior of Santa Maria del Popolo on the same set as the recreated Santa Maria della Vittoria to save money; the scaffolding also disguised this. The film's version of Santa Maria della Vittoria was larger than the real one, so it would accommodate the cranes used to film the scene. To film the Pantheon's interior, two aediculae and the tomb of Raphael were rebuilt to scale at a height of 30 feet (9 m), while the rest was greenscreen. Because of the building's symmetrical layout, the filmmakers were able to shoot the whole scene over two days and redress the real side to pretend it was another.[15] The second unit took photographs of the Large Hadron Collider and pasted these in scenes set at CERN.[16]

[edit] Music

Hans Zimmer returned to compose the score for the sequel. He chose to develop the "Chevaliers de Sangreal" track from the end of The Da Vinci Code as Langdon's main theme in the film.[17] The soundtrack also features violinist Joshua Bell.

[edit] Perception

CBS News interviewed a priest working in Santa Susanna, who stated the Church did not want their churches to be associated with scenes of murder. A tour guide also stated most priests do not object to tourists who visit out of interest after reading the book, a trend which will continue after people see the film. "I think they are aware that it's, you know, a work of fiction and that it's bringing people into their churches."[18] Grazer deemed it odd that although The Da Vinci Code was a more controversial novel, they had more freedom shooting its film adaptation in London and France.[9] Italian authorities hoped the filmmakers corrected the location errors in the novel, to limit the amount of explaining they will have to do for confused tourists.[10]

William A. Donohue, president of the Catholic League, has not called for a boycott, but has requested Catholics inform others about alleged anti-Catholic sentiments in the story. "My goal... is to give the public a big FYI: Enjoy the movie, but know that it is a fable. It is based on malicious myths, intentionally advanced by Brown-Howard." A Sony executive responded they were disappointed Donohue had not created attention for the film closer to its release date.[19] Howard criticized Donohue for prejudging the film, responding it could not be called anti-Catholic since Langdon protects the church, and because of its depiction of priests who support science.[20]

Hindu spokesman Rajan Zed felt Angels & Demons would bring confusion and create stereotypes in the minds of some audiences. He added that the filmmakers should have handled the subject more sensitively as cinema is a very powerful medium.[21] In India, parts of the movie were reportedly censored following complaints from local Christian communities.[22]

The official Vatican newspaper L'Osservatore Romano has called the film ""harmless entertainment", giving it a positive review and acknowledging "The theme is always the same: a sect versus the church, [but] this time, the church is on the side of the good guys."[23][24] Beforehand, it had stated it would not approve the film, while La Stampa reported the Vatican would boycott it. However, it also quoted Archbishop Velasio De Paolis as saying a boycott would probably just have the "boomerang effect" of drawing more attention to Angels & Demons and make it more popular.[25]

The official censor board of the Philippines, the Movie And Television Review And Classification Board (MTRCB), unanimously gave the movie an R-13 rating, which meant everyone aged 13 and over can watch the film. The same censor board gave an R-18 rating to The Da Vinci Code.[26]
Baca Selengkapnya...

Read more...

Selasa, 28 April 2009

Pemenang Festival Film Bandung 2009


Festival Film Bandung 2009 sukses digelar Jum’at 24 April 2009 di Convention Hall Hotel Horison Bandung. FFB 2009 ini adalah wadah apresiasi terhadap insan Film Tanah Air yang hajatannya diadain di Bandung. Malam penghargaan ini memang digelar sederhana tapi ga’ kehilangan gregetnya. Film Laskar Pelangi dan Do’a Yang Mengancam bersaing ketat di nominasi Film dan Narafilm Terpuji Festival Film Bandung 2009. Dua film ini nongol hampir di semua kategoriFilm dan NaraFilm Terpuji
* Sutradara Terpuji : Riri Riza (Laskar Pelangi)
* Film Terpuji : Laskar Pelangi
* Penulis Skenario Terpuji : Jujur Prananto (Laskar Pelangi)
* Pemeran Wanita Utama Terpuji : 1. Cut Mini (Laskar Pelangi) 2. Revalina S Temat (PBS)
* Pemeran Utama Pria Terpuji : Aming (Doa Yang Mengancam)
* Penata Musik Terpuji : Titi dan Aksan Sjuman (Laskar Pelangi)
* Penata Kamera Terpuji : Faozan Rizal (PBS)
* Penata Artistik Terpuji : Eros Eflin (Laskar Pelangi)
* Pemeran Pendukung : Widyawati (PBS)
* Wanita Terpuji Pemeran Pendukung : Ikranagara (Laskar Pelangi)
* Editing Terpuji : Cesa David Lukamsyah (Doa Yang Mengancam)
* Sinetron Terpuji : Rinduku Cintamu
* Sinetron Lepas Terpuji : Seragam Anak Pemulung
* Sinetron Komedi Terpuji : ERTE Marihot
* Sinetron Remaja Terpuji : Sinetron Kepompong
* Sutradara Terpuji : 1.Dedi Setiadi (Rinduku Cintamu) 2.H Eddie Riwanto (Dimas & Raka)
* Pemeran Utama Pria dan Wanita Terpuji : Lukman Sardi (Rinduku Cintamu)
* Pemeran Utama Wanita Terpuji : Bunga Zainal (Koq gitu sih)
* Pemeran Pembantu Pria Terpuji : Oka Antara (Yasmin)
* Pemeran Pembantu Wanita Terpuji : Happy Salma (Koq gitu sih)
Menurut Ketua Dewan Pembina FFB Chand Parwez, FFI Bandung ingin kasih referensi tontonan yang baik dan layak pada masyarakat umum. Festival tahunan yang sekarang masuk tahun ke 22 ini dibagi 3 penilaian, untuk kategori sinetron, kategori film indonesia dan film impor.

Ketua Regu Pengamat FFB, Edison Nainggolan bersama Saini KM, Jacob Sunaryo, Aam Amelia, dan Yus R mengamati 84 judul film Indonesia yang tayang di bioskop Bandung, 81 judul film impor, dan 278 judul sinetron. Penilaian ini dilakuin sejak Maret setahun lalu.
Baca Selengkapnya...

Read more...

Sabtu, 18 April 2009

Harry Potter dan Relikui Kematian


Untuk film yang berdasarkan novel ini, lihat Harry Potter dan Relikui Kematian (film)
Harry Potter dan Relikui Kematian
Penulis J. K. Rowling
Judul asli Harry Potter dan Relikui Kematian
Penerjemah Listiana Srisanti
Ilustrator • Mary GrandPré (AS, RI)
• Jason Cockcroft (UK)
William Webb dan Michael Wildsmith (UK adult)
Negara Inggris Raya
Bahasa Bahasa Indonesia
Serial Harry Potter
Genre Fiksi, Fantasi
Penerbit Gramedia (Indonesia)
Bloomsbury Publishing PLC (Britania Raya), Scholastic Press (AS)
Tanggal terbit 13 Januari 2008 (hardcover), 26 Januari 2006 (softcover)
Terbitan dalam Bahasa Inggris 21 Juli 2007
Halaman 608 (Britania Raya), 759 (AS)
Seri sebelumnya Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran
Seri lanjutan tidak ada


Harry Potter dan Relikui Kematian (Inggris: Harry Potter and the Deathly Hallows) adalah buku ketujuh dan terakhir dari seri novel Harry Potter oleh J. K. Rowling.

Versi terjemahan dalam bahasa Indonesia ini akan diterbitkan dalam versi hardcover dan softcover, masing-masing pada 13 dan 26 Januari 2008.[1] Sebelumnya, versi bahasa Inggris Deathly Hallows, diluncurkan secara serentak di seluruh dunia di 93 negara[2], pada tanggal 21 Juli 2007, satu menit setelah tengah malam (00:01), British Summer Time.

Judul buku ini diumumkan pada 21 Desember 2006 melalui situs web Rowling, dan dikonfirmasikan tak lama kemudian oleh penerbitnya.[3] Rowling menyatakan bahwa seri terakhir ini berkaitan erat dengan buku sebelumnya, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, yang menurutnya "hampir seperti dua bagian dari satu novel".[4] Rowling meninggalkan sebuah pernyataan yang ditandatangani, tertulis di sebuah patung dada pualam di Hotel Balmoral, Edinburgh, yang menyatakan;
"JK Rowling telah selesai menulis Harry Potter and the Deathly Hallows di ruangan ini (652) pada 11 Januari 2007."[5] Dalam situsnya pada 6 Februari 2007, Rowling menyatakan
"Walaupun saya menyukai setiap buku Potter sebelumnya, 'Deathly Hallows' adalah favorit saya, dan ini adalah sebuah cara yang sangat menyenangkan untuk menyelesaikan serial ini."[6]

Buku ini mendapat predikat best-seller di Amazon dan Barnes and Noble hanya beberapa jam setelah tanggal peluncurannya diumumkan.[7]Ringkasan cerita
Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.

[sunting]
Meninggalkan rumah Dursley

Harry Potter memasuki umur 17 tahun di mana ia mencapai umur kedewasaan secara dunia sihir. Sebelum berumur 17 tahun, Harry masih terlindung dari Voldemort selama ia tinggal di rumah keluarga Dursley yang memiliki pertalian darah dengannya. Dengan memasuki umur kedewasaannya, mantera itu akan terangkat dengan sendirinya dan mengharuskan Harry untuk melindungi dirinya sendiri.

Atas informasi dari Severus Snape, Lord Voldemort dan para pengikutnya mengetahui informasi mengenai akan terangkatnya mantera perlindungan ini dan berencana untuk menyergap Harry ketika ia akan meninggalkan rumah keluarga Dursley. Voldemort juga sedang mencari tongkat sihir baru yang dapat mengatasi tongkat sihir Harry. Sesaat sebelum mantera perlindungan Harry berakhir, keluarga Dursley diamankan ke tempat yang dirahasiakan, dan beberapa anggota Orde Phoenix tiba untuk mengawal Harry ke tempat yang aman. Enam orang menyamar sebagai Harry, tapi Harry yang asli ketahuan dalam perjalanan dan diserang oleh Voldemort dan para Pelahap Mautnya. Harry berhasil melarikan diri ke rumah keluarga Weasley, the Burrow, tapi Hedwig dan Mad-Eye Moody terbunuh dalam pertempuran.

Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir Rufus Scrimgeour tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan/menyalakan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak sihir untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan Snitch pertama yang ditangkap Harry dalam pertandingan Quidditch pertamanya. Namun demikian, pedang Gryffindor ditahan oleh Menteri Sihir, karena kementerian berpendapat bahwa pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Belakangan, dari Snitch itu muncul sebuah petunjuk yang ditulis oleh Dumbledore: "Aku membuka pada penutup" (bahasa Inggris: "I open at the close"). Walaupun ketiganya belum dapat mengetahui mengapa Dumbledore meninggalkan masing-masing mereka benda-benda tersebut, mereka mempercayai bahwa benda-benda itu dimaksudkan entah bagaimana untuk membantu mereka menemukan horcrux-horcrux Voldemort.

[sunting]
Pencarian Horcrux

Dalam resepsi pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour, Patronus dari Kingsley Shacklebolt muncul dengan peringatan bahwa Kementerian Sihir telah jatuh dan para Pelahap Maut sedang mendatangi mereka. Harry, Ron, dan Hermione melarikan diri dengan berdisapparate, dan akhirnya berlindung di markas besar Orde Phoenix yang telah ditinggalkan di Grimmauld Place nomor dua belas, rumah yang diwarisi Harry dari Sirius Black. Di rumah ini, Harry mendapati bahwa ternyata adik Sirius, Regulus yang tewas oleh Voldemort, memiliki nama Regulus Arcturus Black yang berinisial sama dengan "R.A.B." yakni orang yang mengambil Horcrux liontin Salazar Slytherin dari gua pinggir laut yang tersembunyi.[HP6] Hermione teringat pernah melihat sebuah liontin di antara barang-barang milik Kreacher, peri rumah di tempat itu. Kreacher merujuk Mundungus Fletcher yang mengakui telah mencuri liontin itu dari si peri rumah dan menggunakannya untuk menyogok Dolores Umbridge. Yakin bahwa liontin itu salah satu Horcrux yang sedang mereka cari, ketiganya memasuki Kementerian Sihir menggunakan samaran Ramuan Polijus. Mereka berhasil mengambil liontin itu dari leher Umbridge tanpa disadarinya, tapi tempat persembunyian mereka di Grimmauld Place berhasil diketahui musuh.

Ketiga sahabat itu melarikan diri. Mereka tidak berhasil membuka apalagi menghancurkan liontin itu, dan bergantian memakai liontin itu untuk menjaganya. Mereka juga berhasil mengetahui bahwa pedang "warisan Dumbledore" yang ditahan oleh kementerian sebenarnya adalah pedang tiruan; dan bahwa pedang Gryffindor yang aslilah yang dapat menghancurkan Horcrux-Horcrux itu. Harry hendak mencari pedang itu, tapi Ron, yang khawatir akan keamanan keluarga dan kecewa karena ternyata Harry tidak memiliki rencana apa pun dari Dumbledore, meninggalkan Harry dan Hermione. Keduanya kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari pedang itu. Di sana, mereka disergap oleh Voldemort dan Nagini. Ketika mereka berhasil melarikan diri, Hermione tanpa sengaja mematahkan tongkat sihir Harry.

Di Hutan Dean, Harry melihat sebuah Patronus berbentuk Rusa betina di dekat tempat mereka berkemah. Patronus itu membawanya ke sebuah kolam es berisikan pedang Gryffindor. Ketika Harry berusaha untuk menyelam ke dalam kolam es untuk mengambil pedang tersebut, Horcrux liontin yang dikenakannya tiba-tiba mengetat dan berusaha mencekik lehernya. Ron, yang menggunakan Deluminator untuk mencari Harry dan Hermione, tiba dan berhasil menyelamatkan Harry dari tenggelam di kolam itu, mengambil pedang, dan kemudian berhasil menghancurkan liontin itu. Ron memperingatkan Harry dan Hermione bahwa nama Voldemort sekarang telah menjadi dimanterai Tabu - sehingga orang yang berani menyebut nama itu akan menyebabkan tempatnya bersembunyi akan tersingkap..

[sunting]
Relikui Kematian

Simbol Relikui Kematian (the Deathly Halows)

Ketiga sahabat pergi mengunjungi Xenophilius Lovegood, ayah Luna, untuk menanyakan mengenai simbol yang pernah mereka lihat digunakan oleh Xenophilius dan simbol yang sama dengan simbol yang ada di buku anak-anak milik Hermione. Lovegood menyatakan bahwa simbol itu adalah simbol dari Relikui Kematian (the Deathly Hallows), tiga benda legendaris yang dapat menaklukkan kematian: Tongkat sihir Elder (Elder Wand), Batu Kebangkitan (Resurrection Stone), dan Jubah Gaib. Ketika ditekan mengenai keberadaan Luna, Lovegood mengakui bahwa para Pelahap Maut telah menculik putrinya; dan bahwa ia juga telah memberitahu Kementerian Sihir (yang telah dikontrol oleh para Pelahap Maut) mengenai keberadaan ketiganya; namun mereka berhasil melarikan diri.

Beberapa pemburu harta karun menangkap ketiganya di perkemahan mereka setelah Harry secara ceroboh menyebut nama Voldemort. Mereka dipenjarakan di rumah keluarga Malfoy, bersama-sama dengan Luna Lovegood, Dean Thomas, Ollivander si pembuat tongkat sihir, dan goblin Griphook. Ketika menemukan pedang Gryffindor di antara milik mereka, Bellatrix Lestrange mencurigai bahwa mereka telah mencuri masuk ke tempat penyimpanan miliknya di Bank Gringott. Bellatrix menyiksa Hermione untuk mendapatkan informasi. Dobby berapparate ke penjara bawah tanah tempat mereka semua disekap dan menyelamatkan mereka. Petter Pettigrew turun ke bawah tanah untuk menyelidiki kegaduhan dan mencekik Harry, yang mengingatkan bahwa Pettigrew berhutang nyawa kepadanya.[HP3] Cengkeraman Pettigrew melemah, tangan peraknya terlepas dan mencekik tuannya sendiri sampai mati sebagai balasan hutang nyawa itu. Harry dan Ron berlarian menaiki tangga untuk menyelamatkan Hermione. Ron melucuti Bellatrix sementara Harry mengalahkan dan mengambil tongkat sihir Draco. Dobby muncul kembali dan mereka berempat berapparate ke rumah Bill dan Fleur Weasley. Sesaat sebelum mereka menghilang, Bellatrix melemparkan pisau dan secara fatal menembus tubuh Dobby.

Di kediaman Bill, Ollivander membenarkan akan keberadaan Tongkat Elder itu. Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah tongkat sihir dapat memilih untuk berganti ke tuan yang baru jika pemiliknya dikalahkan atau dilucuti. Tindakan Bellatrix meyakinkan ketiga sahabat itu bahwa ada Horcrux lain yang disembunyikan di lemari besi Lestrange. Dengan bantuan Griphook, mereka memasuki Gringotts dan berhasil mengambil Horcrux yang lainnya, Piala Helga Hufflepuff. Griphook mencuri pedang Gryffindor, karena menganggap bahwa pedang itu sesungguhnya adalah milik kaum Goblin, dan ketiga sahabat berhasil melarikan Horcrux Piala itu. Dengan kejadian ini, Voldemort, yang berhasil mencuri Tongkat Elder dari makam Dumbledore, menyadari sepenuhnya bahwa Harry Potter dan sahabat-sahabatnya sedang mencari dan menghancurkan Horcrux-Horcruxnya. Secara tidak sengaja, pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort yang mengungkapkan bahwa ada satu lagi Horcrux yang disembunyikan di Hogwarts. Harry segera menyadari bahwa Horcrux di Hogwarts ini adalah Mahkota Rowena Ravenclaw.

[sunting]
Pertempuran Hogwarts

Di Hogsmeade, Aberforth Dumbledore membantu Harry, Ron, dan Hermione untuk menyelinap masuk ke Hogwarts. Harry memperingatkan para staf pengajar Hogwarts bahwa Voldemort akan segera datang menyerbu. Orde Phoenix, Laskar Dombledore, para pelajar, dan banyak alumni Hogwarts tiba di sana ketika para pengikut Voldemort tiba menyerang. Pertempuran ini memakan banyak korban, di antaranya adalah Fred Weasley, Remus Lupin, Nymphadora Tonks, dan Colin Creevey. Sementara Harry mencari Horcrux Mahkota itu, Ron dan Hermione memasuki Kamar Rahasia untuk mengambil taring ular Basilisk yang dahulu dibunuh oleh Harry.[HP2] Hermione menggunakan taring itu untuk menghancurkan Horcrux Piala Hufflepuff. Dalam pencarian itu, Harry kemudian teringat bahwa ia pernah melihat Mahkota itu di Kamar Kebutuhan. Di kamar itu, ketiganya diserang oleh Malfoy, Crabbe, dan Goyle. Crabbe mempergunakan mantera Fiendfyre yang sangat kuat yang malah membunuh dirinya sendiri tapi juga menghancurkan mahkota itu.

Pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort kembali, dan ketiganya segera pergi ke Shrieking Shack. Mereka mendengar Voldemort memberitahu Snape bahwa Tongkat Elder tidak dapat digunakannya dengan baik dikarenakan Snape telah menjadi tuan atas Tongkat itu setelah Snape membunuh pemilik Tongkat itu sebelumnya, Albus Dumbledore.[HP6] Voldemort yakin bahwa dengan membunuh Snape maka Tongkat itu akan menjadi miliknya seutuhnya. Ia menyuruh Nagini untuk membunuh Snape, kemudian pergi ke Hogwarts. Ketika Snape sedang jatuh sekarat, ia memberikan Harry memorinya. Memori ini kemudian mengungkapkan bahwa Snape, sekalipun tidak sepenuhnya baik, adalah orang yang setia kepada Dumbledore, didorong oleh cinta seumur hidupnya kepada ibu Harry, Lily Potter. Dumbledore, yang hidupnya sudah tidak lama lagi akibat kutukan yang mengenainya dari Horcrux Cincin Gaunt, telah menyuruh Snape untuk membunuh Dumbledore bila perlu, untuk melindungi peranan Snape dalam Orde Phoenix dan juga untuk menggantikan Draco Malfoy yang ditugasi Voldemort untuk membunuh kepala sekolahnya. Adalah Snape juga yang mengirimkan Patronus Rusa betina yang mengantar Harry ke pedang Gryffindor. Memori itu juga mengungkapkan bahwa Harry sendiri adalah Horcrux — Voldemort tidak akan dapat dibunuh selama Harry masih hidup.

Pasrah akan nasibnya, Harry pergi seorang diri ke Hutan Terlarang di mana Voldemort telah menunggu. Dalam perjalan itu, Harry menemukan petunjuk dari Snitch, yang membuka dan di dalamnya terdapat Batu Kebangkitan. Harry memanggil arwah dari orang tuanya, Sirius Black dan Remus Lupin, yang menenangkan dan menemaninya ke tempat Voldemort. Ia kemudian membiarkan kutukan Voldemort, Avada Kedavra, mengenai dirinya. Harry terbangun di suatu tempat seperti di dunia lain dan tidak yakin apakah ia masih hidup atau sudah mati. Albus Dumbledore muncul dan menjelaskan bahwa bagian jiwa Voldemort yang berada di dalam diri Harry telah dihancurkan oleh kutukan pembunuh itu. Ia menjelaskan juga bahwa seperti Voldemort tidak dapat dibunuh sementara bagian jiwanya masih tersisa, maka Harry juga tidak dapat dibunuh sementara darahnya masih mengalir di tubuh Voldemort. Harry, yang berhasil "mengalahkan maut" dengan menyatukan ketiga Relikui Kematian, mendapat pilihan untuk "meninggalkan dunia" atau kembali hidup di dunia.

Harry hidup kembali, tapi ia berpura-pura telah tewas. Voldemort menyuruh Hagrid untuk membawa Harry ke Hogwarts sebagai tanda kemenangan. Ketika pertempuran memanas kembali, Harry memakaikan dirinya sendiri Jubah Gaib. Neville menarik pedang Gryffindor dari Topi Seleksi dan berhasil memenggal kepala Nagini, menghancurkan Horcrux terakhir. Penduduk desa Hogsmeade, para Centaurus dari hutan, dan para peri rumah Hogwarts ikut masuk dalam pertempuran melawan para Pelahap Maut, yang mulai berbalik kalah unggul dalam jumlah. Di dalam puri, McGonagall, Kingsley, dan Slughorn berduel melawan Voldemort; sementara Ginny, Hermione, dan Luna melawan Bellatrix Lestrange. Ketika sebuah kutukan pembunuh hampir mengenai Ginny, Molly Weasley terjun ke pertempuran, mendorong para gadis menjauh, dan dengan sengit bertempur dengan Bellatrix. Ia berhasil membunuh Bellatrix dengan manteranya. Harry menampakkan dirinya kembali dan menantang Voldemort. Harry berhasil menyimpulkan bahwa Voldemort bukanlah pemilik sejati dari Tongkat Elder. Ketika Draco Malfoy melucuti Dumbledore di Menara Astronomi, Draco tanpa sadar telah menjadi pemilik Tongkat Elder; dan ketika Harry belakangan merebut tongkat Draco, ia sendiri menjadi pemilik baru yang sejati dari Tongkat Elder. Voldemort melemparkan Kutukan Pembunuh kepada Harry yang dilawan Harry dengan Mantera Pelucutan Senjata; namun Tongkat Elder melindungi tuannya sehingga kutukan Voldemort memantul dan berbalik membunuh Voldemort sendiri.

Setelah pertempuran berakhir, Harry mendatangi lukisan Dumbledore. Ia memberitahu bahwa ia akan menyimpan Jubah Gaib itu, tapi untuk mencegah ketiga Relikui Kematian itu bersatu kembali, Batu Kebangkitan akan dibiarkan di tempat ia terjatuh di Hutan Terlarang, dan Tongkat Elder akan dikembalikan ke makam Dumbledore. Jika Harry kelak meninggal tanpa terkalahkan, maka kekuatan Tongkat Elder akan padam seiring dengan kematiannya. Lukisan Dumbledore menganggukkan persetujuannya. Sebelum menempatkan Tongkat Elder kembali ke makam itu, Harry mempergunakannya untuk memperbaiki tongkat sihirnya sendiri yang telah patah.

[sunting]
Epilog

Sembilan belas tahun kemudian, Harry telah menikah dengan Ginny Weasley, dan mereka memiliki tiga anak bernama James Sirius, Albus Severus, dan Lily Luna. Ron dan Hermione juga menikah dan memiliki dua anak, Rose dan Hugo. Keluarga-keluarga itu bertemu di Stasiun King's Cross, di mana Albus akan memasuki tahun pertamanya bersekolah di Hogwarts. James, anak pertama mereka, sudah bersekolah di Hogwarts, sementara Lily baru akan masuk ke Hogwarts dua tahun kemudian.

Anak baptis Harry yang berumur sembilan belas tahun, Teddy Lupin, ditemukan berciuman dengan Victoire Weasley (putri Bill dan Fleur) di salah satu kompartemen kereta. Teddy tampaknya sangat dekat dengan keluarga Potter, dengan perkataan Harry, "Ia sudah datang untuk makan malam bersama empat kali seminggu."

Harry juga melihat Draco Malfoy dan istrinya bersama putra mereka, Scorpius. Malfoy menganggukkan kepala singkat ke Harry, kemudian pergi.

Harry menenangkan Albus, yang khawatir akan masuk ke Slytherin. Ia memberitahu bahwa Severus Snape, dari mana nama Severus diambil, adalah seorang Slytherin dan ia adalah orang yang paling berani yang pernah ditemuinya. Harry juga membocorkan bahwa Topi Seleksi akan mengikuti pilihan seseorang.

Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi dan berteman baik dengan Harry.

Buku ini diakhiri dengan pengungkapan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi selama sembilan belas tahun sejak Pangeran Kegelapan dikalahkan, dan semuanya berjalan dengan baik.
Baca Selengkapnya...

Read more...

Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran (film)


Harry Potter and the Half-Blood Prince akan difilmkan berdasarkan buku keenam seri Harry Potter yang dikarang oleh Joanne Rowling, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran.

Pemfilman akan mulai setelah film Harry Potter and the Order of the Phoenix ditayangkan. Masa tayangan pertama kali dijadwalkan pada bulan November tahun 2008. Karena Warner Bros. ingin menambah jumlah keuntungan dari liburan musim panas, jadwal tayang kemudian diubah menjadi tanggal 17 Juli 2009[1]. Terakhir, pada tanggal 14 April 2009, bos perusahaan distribusi Warner Bros., Dan Fellman, memajukan 2 hari jadwal tayang resmi sebelumnya menjadi tanggal 15 Juli 2009[2][3]. Steve Kloves, akan menulis skenario film tersebut walaupun ia tidak menulis skenario film Harry Potter kelima.

Sinopsis

Berdasarkan kepada Harry Potter 6.

Harry akan menjalani libur musim panasnya dalam keluarga Dursley lagi. Dan saat Harry akan kembali ke rumah keluarga Weasley, Dumbledore berjanji akan menjemput Harry di rumah keluarga Dursley. Harry mengira Dumbledore hanya bercanda, maka ia tidak mempersiapkan barang bawaannya pada hari yang dijanjikan Dumbledore untuk datang. Tapi ternyata Dumbledore datang dan sempat minum teh bersama keluarga Dursley (yang kebingungan dan tak punya nyali untuk menolak) serta Harry (yang tergelak menyaksikan betapa gemetarnya Keluarga Dursley). Sebelum ke rumah keluarga Weasley, Harry diajak Dumbledore menengok teman lamanya, Horace Slughorn. Dumbledore berencana mengajak Slughorn untuk meninggalkan masa pensiunnya dan kembali mengajar di Hogwarts. Saat kembali ke Hogwarts, Harry mengira Slughorn akan menjadi guru terhadap Pertahanan Ilmu Hitamyang baru tetapi ternyata Snape yang mengambil alih pelajaran itu. Slughorn malah mengajar Ramuan. Maka Harry yang tidak membeli apapun tentang pelajaran Ramuan (karena dia mengira Snape tidak akan mengajar anak yang nilai ramuannya kurang dari sempurna) terkejut karena ternyata dia akan mendapat pelajaran ramuan dari Slughorn. Harry di bantu buku ramuannya pangeran berdarah campuran.
Tokoh baru
Fenrir Greyback
Horace Slughorn
Rufus Scrimgeour
Hepzibah Smith
Marvolo Gaunt
Merope Gaunt
Morfin Gaunt
Bob Ogden
Narcissa Malfoy
Bill Weasley (mungkin muncul dalam Harry Potter and the Order of the Phoenix (film))
Romilda Vane
Cormac McLaggen
Baca Selengkapnya...

Read more...

Daniel Radcliffe Tells 'Harry Potter' Fans To Get Ready To Laugh: 'Half-Blood' Could Be 'Funniest' Film


DaNiEl RaDCLiFfE

Every year at Hogwarts seems to get darker and darker. But when
Harry Potter starts his sixth year in "Half-Blood Prince,"
expect things to lighten up a bit.

"If we pull [it] off [right], it should be the funniest
of the films so far," Daniel Radcliffe promised.

That's because, as director David Yates points out, it's the "sex, drugs, and rock and roll" of the Potter books, with massive making-out sessions to occur for several characters — Ron and Lavender, Harry and Ginny — as they come of age. "It's the 'American Graffiti' for this set," Yates said. "I'm looking forward to developing the relationship between Ron and Hermione, and Ron and Lavender. There's a nice triangle there."

The biggest relationship being developed in "Prince" is, of course, the one between Harry and Dumbledore, as the professor takes the student under his wing and shows him Voldemort's back story (as much as it can be pieced together) in the memory-revealing Pensieve. "I'm jealous of Dumbledore taking all the scenes," laughed Evanna Lynch, who plays Luna Lovegood. "But what they've done is really good."

Some of those Voldemort memories required a younger Tom Riddle to join the cast, so Hero Fiennes-Tiffin (Ralph Fiennes' nephew) and Frank Dillane are now aboard to play the 11-year-old version and 16-year-old versions of the Dark Lord, respectively. Even though — like Ralph — Frank is presumably non-evil in real life, Evanna says she's a little scared to approach her newest castmember just yet. "I saw him, but to go up and say, 'Hi'? He's Voldemort!" she said. "But maybe I will. He has a quiet, dark side, so people don't know him much yet. He doesn't say much. I'm sure he's a lovely boy. But he does have that aura."

Once casting was completed, the actors had a read-through — excluding Katie Leung, said the actress who plays Harry's former crush, Cho Chang. Not because Cho is not to be seen in this next installment — which you might have guessed from the way their love story ended in "Order of the Phoenix," out Tuesday (December 11) on DVD — but because Katie started university in the fall. She'll be back on set in January to shoot her "Prince" scenes and hopes to be back yet again for the finale scenes in "Deathly Hallows."

"There's still a slight jealousy there with Ginny to be resolved," she said. "I'm glad she's there fighting for the good side even though her relationship with Harry didn't work out in the end."

For all the jealousy Katie faced when Cho became Harry's first kiss, Bonnie Wright (who plays Ginny) hopes fans don't have the same response to her more extended kissing scenes. "I suppose our relationship lasts longer than Cho and Harry, but remember — at the end of [Book] Six, Harry and I can't be together," she said. "It'll be funny to do [the make-out scenes], but it's just a film! Hopefully people will just enjoy it and not get too jealous," she laughed.

"I knew Bonnie when she was 10, so that's going to be very odd!" Radcliffe laughed. "It's going to be fine, but it's going to be funny."

Check out everything we've got on "Half-Blood Prince."

Visit Movies on MTV.com for more from Hollywood, including news, reviews, interviews and more.

For breaking news, celebrity columns, humor and more — updated around the clock — visit MTVMoviesBlog.com.

Want trailers? Visit the Trailer Park for the newest, scariest and funniest coming attractions anywhere.
Baca Selengkapnya...

Read more...

'DRAGONBALL EVOLUTION', Misi Mulia Menyelamatkan Dunia


- Pemain: Justin Chatwin, James Marsters, Emmy Rossum, Jamie Chung, Joon Park, Eriko Tamura, Randall Duk Kim, Texas Battle, Ernie Hudson, Chow Yun-Fat

Sebelum meninggal, kakek Goku (Justin Chatwin) meminta Goku untuk mencari Master Roshi (Chow Yun-Fat) dan mengumpulkan tujuh 'bola naga' (Dragon Ball) sebelum didahului oleh Lord Piccolo (James Marsters) yang bermaksud mengumpulkan ketujuh Dragon Ball tersebut untuk menguasai dunia.
Menurut legenda, barang siapa berhasil mengumpulkan ketujuh Dragon Ball memiliki kemampuan membangkitkan sang naga yang akan mengabulkan semua permintaan mereka. Lord Piccolo bermaksud mengumpulkan membangkitkan sang naga untuk memenuhi ambisi jahatnya menguasai seluruh dunia. Dalam perjalanannya memenuhi permintaan terakhir kakeknya, Goku kemudian bertemu Bulma (Emmy Rossum) yang setuju bergabung dengan Goku dalam misi menyelamatkan bumi ini.

Setelah menempuh perjalanan panjang yang berbahaya, akhirnya Goku berhasil menemukan tempat tinggal Master Roshi. Sayangnya perjuangan Goku belum berakhir di sini. Ia masih harus bertempur melawan Master Roshi yang ingin menguji kemampuan Goku. Namun setelah mengetahui bahwa Goku adalah cucu dari Gohan (Randall Duk Kim), Master Roshi sadar bahwa ia harus segera mempersiapkan Goku untuk sebuah pertarungan besar melawan Lord Piccolo yang sama sekali tak bisa dianggap enteng.


Berawal dari serial manga karya Akira Toriyama, sutradara James Wong berusaha 'menghidupkan' tokoh komik Jepang ini dan memasang nama besar Chow Yun-Fat sebagai jaminan larisnya film ini. Sayangnya, trik ini agaknya tak terlalu banyak berpengaruh karena banyak hal lain yang membuat film ini jadi tak sebagus versi kartunnya.

Sebagai contoh, banyaknya 'penyesuaian' yang harus dilakukan sang sutradara membuat para fans manga ini jadi kecewa lantaran visualisasi sang sutradara telah menyimpang jauh dari visualisasi dalam komik. Misalnya saja rambut Goku yang tak mirip dalam versi komik atau tokoh Bulma dan Picollo yang juga menyimpang dari versi komiknya. Meski ini terlihat sepele, namun buat para fans berat serial ini, jelas ini jadi masalah besar.


Situasi jadi lebih tak menguntungkan lantaran buat para penonton yang bukan penggemar manga ini, film ini juga tak memberikan sesuatu yang 'jelas'. Artinya buat orang yang sama sekali tak tahu tentang kisah Goku, film ini tak akan memberikan penjelasan yang cukup kuat atau setidaknya motivasi di balik tindakan para tokohnya. Alur cerita juga terasa terburu-buru mencapai klimaks dan meninggalkan detil-detil penting yang seharusnya ada.

Tapi setidaknya dari sisi visual, film yang semula hanya berjudul DRAGONBALL ini cukup memuaskan. Visual effect dan CGI yang digunakan cukup meyakinkan dan enak ditonton. Akhirnya, hanya itulah yang bisa diberikan oleh film yang masuk kategori leave your brain at the door ini.
(kpl/roc)
Baca Selengkapnya...

Read more...

Senin, 16 Maret 2009

slumdog millionaire

slumdog millionaire

Keinginan Jamal untuk main dalam kuis "Who Wants to be A Millionaire" bukanlah keinginan untuk main dan menang. Bahkan Jamal dikisahkan sebagai pemuda yang tidak bisa membaca, bagaimana mungkin ia punya cita-cita untuk memenangkan kuis yang luar biasa sulit ini.
Bahkan untuk pertanyaan yang begitu mudahpun ia tidak bisa menjawabnya. Sang inspekturpun dibuat kagum dengan retorika berpikir Jamal, ketika ia menanyakan mengapa pertanyan yang semua orang India bisa menjawab justru tidak dijawab Jamal, tetapi pertanyaan yang sulit malah selalu dapat dijawab dengan baik.
Jamal tiba-tiba mengajukan beberapa pertanyaan yang sepele pada sang inspektur dan itu adalah pertanyaan sederhana yang tak dijketahui jawabannya oleh sang inspektur.
Kepiawaian menjawab pertanyaan kuis super sulit ini menjadikan sang "Tantowi Yahya" alias pemandu kuis menjadi berang. Iapun mulai geram dengan kelakuan Jamal yang selalu bisa menjawab pertanyaannya. Dalam dunia nyata pemandu kuis ini adalah Amitabh Bachchan, namun dalam film ini diperankan oleh orang yang mirip dengannya. Sosok Bachchan yang lagendaris rupanya tidak mau dirusak oleh citra buruk sang pemandu kuis yang jahat dalam film ini.
Berbagai cara dilakukan sang pemandu kuis untuk menteror mental Jamal dan akhirnya bahkan menjebloskan Jamal dalam penjara, demi untuk mengetahui cara yang dipakai Jamal dalam menjawab deretan pertanyaan yang super sulit itu.
Pertanyaan yang sulit dari kuis itu memang selalu melempar Jamal dalam kisah kehidupannya secara kilas balik, mulai dari anak-anak, ABG sampai menjadi remaja. Rangkaian kilas balik itulah yang mampu menjawab rangkaian pertanyaan dalam kuis.
Penontonpun dibuat semakin terpaku oleh drama kehidupan keluarga Jamal, mulai dari meninggalnya ibu tercinta, kelakuan kakak Jamal [Salim], perjumpaannya dengan Latika dan cinta Jamal yang seolah tak berujung.
Ini memang film drama yang telah membuktikan dirinya dengan penghargaan dari Golden Globe 2009. Tidak salah kalau memang film berdurasi 2 jam lebih ini menyabet penghargaan sebagai film drama terbaik. Film inipun telah mendapat penghargaan sebagai film dengan sutradara terbaik, penulis naskah terbaik dan pembuat musik terbaik. Kayaknya penghargaan lanjutan akan segera menyusul, melihat kehebatan film ini.
Bila ingin berwisata keluarga dengan tujuan menonton film, maka film ini layak untuk ditonton. Kita akan merasa telah menonton sebuah film Indonesia, karena seting cerita yang begitu mirip suasana Indonesia dan sekaligus serasa menonton campuran film Inggris, India dan Amerika, karena aroma itulah yang disajikan dalam film ini.
Baca Selengkapnya...

Read more...

Text

  ©Template by Dicas Blogger.